Kamis, 24 Februari 2011

Aku, Tuhan dan Cinta

Aku adalah seorang lelaki berusia 30 tahun
Aku adalah lelaki yang selalu mencari jati diri
Aku adalah lelaki yang sebelumnya hidup dalam keterpurukan

Ya, cinta, itu adalah alasan mengapa sampai saat ini aku belum memiliki pendamping hidup. Cinta? Ya, cinta. Bukankah seharusnya cinta itu memberikan keindahan? Bukan keterpurukan seperti aku? Siapa yang bisa memberitahu aku apa itu cinta? Sampai saat ini aku justru berfikir cinta adalah perusak hidupku, karna dengan hadirnya cinta aku bisa merasa sakitnya kehilangan cinta.

Hari-hari selalu aku lalui dengan kebiasaanku yang biasa orang-orang bilang ”autis”, aku tak peduli apa kata mereka, yang aku lakukan hanya mencari tau apa yang belum aku tau. Apapun itu, cinta? Mungkin juga.

Malam itu, 22 Januari 2011 pukul dua puluh dua tepat, aku sedang berkaca di kamar ibuku, aku menemukan sesuatu di bawah meja riasnya. Selembar kertas bertuliskan,
“Hidup itu berawal dari sugesti, jika sugesti itu baik maka hidup kita akan baik-baik saja, tapi sebaliknya jika sugesti itu buruk maka begitupun dengan hidup kita kemungkinan akan berjalan tidak mulus. Saat sesuatu mengingatkanmu pada masa lalumu, sekalipun itu buruk. Jadikanlah sesuatu itu sebagai kekuatan untukmu untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Termasuk cinta, jika hari ini kamu merasa cinta itu menyakitkan, maka percayalah di luar sana ada cinta yang akan membawamu dalam bahagia.”
Aku terdiam dan berfikir sejenak, “mengapa aku tak lantas pergi dan mencarinya? Mungkin itu adalah jawaban dari segala pertanyaanku tadi. Mungkin di luar sana akan ku temukan apa itu cinta”

Keesokan harinya, aku merasa sangat bersemangat untuk mencari cinta itu. Tidak lagi terpuruk dengan kisah cinta masa laluku itu. Sedikit bercerita, sebenarnya aku masih sangat sedih, karna wanita itu pergi untuk selama lamanya tepat di hari pernikahanku. Dia meninggal karna serangan jantung.  Hah, sudahlah, makin aku ingat, makin sakit hati ini.

Pagi itu, aku berpamitan kepada kedua orang tuaku untuk kembali mencari pekerjaan. Aku di pecat dari pekerjaanku yang lama,  karna menurut pengamatan bos di perusahaan itu, kinerjaku tak lagi bagus, tak lagi produktif, bahkan konsentrasi pun hilang. Hingga apapun yang aku lakukan hasilnya jauh dari maksimal, itu sangat merugikan perusahaan, dan akhirnya perusahaan memutuskan untuk memecatku.

Hari beranjak senja, namun tak jua ku temukan pekerjaan itu. Aku harus tetap semangat mencari pekerjaan itu. Itu akan menjadi awal dari kehidupan baruku, tanpa wanita itu. Tak ku pungkiri aku cukup lelah dengan hari ini, hingga ku putuskan untuk beristirahat sejenak dan membeli sebotol minuman untuk melegakan dahaga ini. Ku temukan sesosok wanita cantik di sana, sedang bersantai juga.
          Tak ku sangka ia menyapa dan bertanya padaku, “hai, saya Kirana, anda siapa? Sedang apa disini?”
          Dengan sedikit heran lalu ku jawab, “saya Aditya, senang bertemu dengan anda. Saya sedang beristirahat disini setelah seharian mencari pekerjaan, anda sendiri?” percakapan pun di mulai dari pertemuan tidak di sengaja itu
          “saya sedang ingin bersantai saja, karna kebetulan pekerjaan saya telah selesai. Maaf saya lihat dari raut muka anda tampak sangat lelah? Lalu kalau boleh saya tau, mengapa seusia anda masih mencari pekerjaan, bukankah sewajarnya seusia anda sudah memiliki pekerjaan tetap?”
          “ya, sebelumnya saya memang tengah bekerja di suatu perusahaan, tapi ....” aku memotong ceritaku, dan bertanya,  “tak apa jika saya menceritakan hal ini pada anda?”
          “jika anda mempercayai saya, itu tidak masalah”
          “baiklah, saya percaya. Saya di pecat dari perusahaan lama saya, karna kinerja saya yang semakin memburuk. Sebenarnya ini semua karna cinta, keterpurukan, kemiskinan, dan semua penderitaan yang saya rasa karna cinta”
          “mengapa anda beranggapan demikian?”
          “karna wanita itu, pergi tepat di hari pernikahan kami. Saya sangat terpukul, saya sangat mencintai dia, sampai sebelumnya saya rela memberikan apapun untuknya, saya sangat marah pada Tuhan saat itu, mengapa Ia mengambilnya di saat yang tidak tepat? Bukankah Tuhan itu memberikan kebahagiaan untuk umatnya? Tapi mengapa Tuhan malah memberikan kesedihan yang teramat sangat. Jika Tuhan itu memang ada lalu mengapa Ia diam saja melihat saya yang terpuruk?”
            “mungkin Tuhan murka karna cinta anda yang begitu besar untuk wanita itu, apa cinta anda untuk-Nya sama melebihi cinta anda untuk wanita itu? Saya rasa justru kebalikannya. Percayalah, Tuhan tidak akan selalu memberikan apa yang anda inginkan, tapi Tuhan akan selalu memberikan sesuatu itu pada waktunya, dan itulah yang terbaik untuk anda. oh ya, sebelum saya lupa, apa anda suka desain? Perusahaan saya sedang membutuhkan desainer”
            “kebetulan saya dulu sekolah di bagian desain. Mengapa anda tak memberitahu saya jika ada lowongan pekerjaan di perusahaan anda sejak dulu? Jadi kan saya tak perlu berlarut-larut dalam kesedihan saya”
            “apa anda pernah datang pada saya? Bagaimana saya bisa tau anda membutuhkan bantuan saya, sedangkan anda tak pernah datang pada saya?”
Sejenakku merenungkan kata-kata wanita itu, “benar juga perkataan anda”
            “melanjutkan komentar saya tadi. Begitu pun Tuhan, bagaimana anda bisa menyalahkan Tuhan dengan apa yang terjadi pada anda? bagaimana Ia bisa membantu anda untuk bahagia? sedangkan anda tak pernah datang kepada-Nya

Aku tercengang dengan pernytaan wanita itu, betapa tidak, mengenalinya pun tidak, tapi seakan-akan dia mengenalku sudah sangat lama. Aku terus mengartikan kata-katanya, apa mungkin dengan kata lain aku adalah seorang musyrik, yang memuja selain Tuhanku secara berlebihan? Bahkan mungkin cintaku untuk wanita itu, lebih besar dari rasa cintaku untuk Tuhanku? Tak hentinya pertanyaan menghujam fikiranku.

Entah apa yang ada di dalam fikirannya, dia tiba-tiba datang, menyapaku dan memberikan satu pencerahan atas semua keterpurukanku. Entah itu yang biasa kebanyakan orang bilang “cinta pada pandangan pertama”, atau memang ini jawaban dari Tuhan atas segala kemarahanku pada-Nya? Ia memberikan seorang wanita baik seperti Kirana untuk membimbing aku agar lebih baik. Aahh entahlah! yang aku tau, aku mencintainya, dan aku mencintainya karena-Mu, Tuhanku. Karena itulah aku memutuskan untuk menikahinya. Benar saja, kehidupanku sekarang jauh lebih baik dari kehidupanku sebelumnya, aku bahagia bersama Kirana istriku dan aku lebih mengenal siapa Tuhanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar