Kelas X11 SMAN 10 Bandung adalah kelas yang mempertemukan kami. Sejak MOS kami sudah saling kenal, dan mungkin di antara banyak lelaki di kelas, yang terdekat adalah dia. Kedekatan terus berlanjut sampai akhirnya dia masuk ke dalam kehidupanku dan mr.RS. Terus mengusik dengan segala cara, ta hentinya menggangguku, setiap malam bahkan setiap waktu luangnya (mungkin).
Kenangan itu, mungkin menurutnya "ta ada kenangan di antara kami", tapi menurutku? banyak :)
Walaupun saat dia ucapkan "aku cinta kamu" , "aku mau jadi alasannya" (saat aku bingung mencari alasan untuk meninggalkan mr.RS) , atau apapun itu yang menerangkan rasa itu berbeda untukku, aku masih enggan berkata "ya, aku mau" , atau sekedar "aku suka" .. Tapi aku mengingat setiap detik bersamamu.
Mungkin Lembang adalah tempat yang selalu mengingatkanku "tentang kita".
Mengapa? Entahlah, tapi aku rasa perjalanan itu membuat aku sadar sebenarnya aku cinta dia. Aku merasa sangat nyaman berada di sampingnya, semakin terasa saat dia menarik ke dua tanganku untuk melingkari pinggangnya.
Aku sempat jatuh, karna beberapa minggu setelah perjalanan itu, kabarnya dia menjalin hubungan dengan salah satu adik kelas kami. Bisakah membayangkan sakitnya aku? Saat aku sadar, aku cinta dia, kenyataan berkata lain. Dia pergi meninggalkanku dan rasa itu. Aku hanya bisa terdiam, mengeluh, menyesal dan menangis, sambil terus menunggunya yang ta pasti akan kembali atau pergi untuk selamanya.
Tuhan menjawab penantianku, dengan membiarkannya kembali. Mungkin sedikit berbeda, kali ini dia memiliki sedikit luka karna mantan kekasihnya.
Hari itu PORAK (futsal), dia sebagai panitia, dan aku peserta. Dia memintaku memakai no punggung 12. Awalnya hari itu tampak biasa, sampai ku rasa mulai aneh ketika dia selalu membalas pesan ke handphone ku dengan no berbeda. Biasanya sih, pulsa kosong, ya sudah artinya bukan waktunya smsan. Pertandingan belum di mulai, tapi dia pamitan untuk foto angkatan kelasnya, dia berpesan jangan meninggalkan sekolah sebelum dia kembali.
Sesuai dengan permintaannya, aku menunggunya kembali untuk mengantar aku pulang. Di perjalanan, Jalan Pasantren tepatnya, dia tiba-tiba berkata,
"kalau aku suka kamu gimana?"
"yaa, ga gimana-gimana"
"kalau aku jadi pacar kamu gimana?"
beruntung dia tidak melihat betapa kagetnya aku, mungkin kulit hitamku berubah menjadi merah seketika saat itu, setelah terdiam beberapa saat aku kembali berbicara,
"hemm, yaaa ga gimana-gimana juga"
"jadi, mau jadi pacar aku?"
"tentu :) "
kami terus berbincang sampai akhirnya tiba di kediamanku, Pasir Jati.
Tak ingin munafik, dulu aku memang bukan orang baik (bukan berarti sekarang sudah baik), untuk shalat aku sangatlah malas. Semenjak ada dirinya, lama kelamaan aku merasa lebih baik, dan termotivasi untuk berubah. Aku tak tau apa yang ada dalam dirinya, tapi sepertinya menghipnotisku.
Tapi hubungan itu tak berjalan mulus, ada saja "pengganggu" yang membuatku jengkel hingga akhirnya aku kehilangan kendali emosiku. Mungkin dia jenuh, dan memutuskan untuk meninggalkan aku. Bodohnya aku, tak berkata apapun, hanya dengan meneteskan air mata aku berkata, "terserah kamu".
Akhirnya penyesalan pun selalu menghantui. Ternyata selama ini kesalahan itu aku, dan pikiranku yang ke kanak-kanakan. Semuanya hanya salah paham. Tapi apa daya, semuanya sudah terjadi dan dia jera bersamaku.
Setelah beberapa bulan berlalu, kami pun sudah berada di Universitas Padjajaran, kebetulan kami satu Universitas, hanya saja dia Fakultas Hukum, sedangkan aku Fakultas Ekonomi. Kami mendapat undangan untuk menghadiri reuni kelas kami dulu di Zipur (rumah salah seorang teman kami), dan seperti biasanya dia menjemputku dulu. Hari itu rasanya campur aduk, senang? iya, karna bertemu dengannya, sedih? iya, karna aku tau itu takkan lama. Perlakuannya masih sama seperti dulu, hingga aku lupa dia hanyalah mantan kekasihku. Malam semakin larut, sampai akhirnya kami semua harus berpamitan pulang.
Jujur, sejak malam itu aku berharap lebih.
Suatu hari, aku temukan di facebook miliknya, tanda cinta dari seorang wanita, walaupun hanya sebuah simbol "

Tidak ada komentar:
Posting Komentar